Skip to main content

Sirkus

Kau berkata, kitalah kembang api,
menari di atas lidi-lidi cahaya setipis jerami
dan lilin-lilin yang telah padam sedari tadi

Seekor jerapah ikut berdansa di angkasa
menaiki seutas benang baja bersama istrinya
sedangkan seekor beruang mengendarai sepeda
dengan motor ditemani seekor kukang jantan

Gajah-gajah mulai terbang di udara
ditemani kawanan kuda bersayap
juga seekor jebra yang meluncur cepat
dan sepasang kucing berlompatan pada temali besi


Kita adalah kembang api sayang,
berkembang di atas saat malam tiba
dan Kakek tua itu sedang asik terlentang
menikmati pertunjukan dan kopi semesta

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

percakapan deny dan watip part 2

dialog saat malam Watip: den, akhirnya saya menemukan cara untuk ke jepang, lalu bertemu dengan yoshioka kiyoe. Deny: bagaimana tip Watip: naik pesawat   Dialog malam hari Deny : Tip, kenapa lw punya banyak tokoh favorit? Watip : Biar bisa minta tandatangannya   dialog pagi:  deny: kalo lw ketemu singa apa yang lu lakukan?  watip: berdoa semoga singa itu sudah kenyang     Obrolan tengah malam Watip : den, kalo mau begadang ada satu syarat penting Deny : apa Tip Watip : Jangan tidur   dialog jam 8 malam: deny: kalo lw nyasar di tempat yang nga ada airnya trus lw haus, cara buat lw dapat air gimana? Watip: ambil di ransel   dialog jam 8 malam: deny: kalo lw nyasar di tempat yang nga ada airnya trus lw haus, cara buat lw dapat air gimana? Watip: ambil di ransel     dialog malam: deny: gw bayarin makanan lw 10 ribu Watip: seribu, ambil atau tidak.  

Komentar Ahmad Ibo untuk Museum Hujan

Malam musim hujan di bulan Desember, Watip meminta saya ke kontrakan, dia ingin memberikan kepada saya Museum Hujan, buku kumpulan puisinya yang baru lahir. Suatu kehormatan buat saya karena menjadi salah satu dari sedikit orang yang menerima buku puisi tersebut langsung dari penulisnya. Sekaligus suatu kegembiraan karena mungkin telah lahir generasi kedua penyair Bengkel Sastra UNJ pasca Ferdi Firdaus. Anjaaaass. Sepintas membayangkan Museum Hujan, terbesit dalam kepala saya tentang bangunan tua, meski begitu senyap, di dalamnya penuh dengan hiruk pikuk kejayaan masa lalu. Watip menuliskan lalu menyajikannya pada diorama-diorama , tentang hujan dan kenangan yang telah purba. Dilihat orang, diraba, dinikmati, membosankan, lalu ditinggalkan dan dilupakan begitu saja. Meski demikian, di sana puisinya tetap suci dan abadi sebagai artefak yang menyimpan segala kenangan. Menerima buku puisi buat saya seperti menerima kitab suci, hanya saja Watip di luar 25 nabi yang waj...