Skip to main content

Posts

Narasi Perjalanan

Narasi Perjalanan 1 Kau bilang bidan harus bawel, dan orang melankolis sepertiku harus mencari jodoh yang bawel juga. Bagaimana jika aku denganmu saja, itupun jika kau mau. 2 Malam ini seperti mimpi. Pandanganku menjadi berkunang, lampu juga menjadi temaram jingga. Padahal ini baru jam setengah sepuluh malam. Ditambah lagi ada kau di belakangku, walau tanpa hadirnya peluk. 3 Agak sulit membedakan keju dan merica di saat ini. Udara sedingin hujan, hanya saja tanpa jaket ataupun pakaian kita kenakan. Kau sibuk memainkan telepon gengam, dan lupa jika ada aku di depan sedang memperhatikan setiap perubahan isyarat wajahmu. 4 Perjalanan kita dimulai kembali pada angka kesepuluh, setelah para remaja sudah mulai lelah pada ketenangan, dan kita harus bergegeas pulang. Seperti sepasang burung gereja saat matahari sudah sibuk ingin terbenam 5 Jalan aspal sepanjang perjalanan menjelma sungai ketika kita menyusurinya dengan sebuah sampan. Ada batu-batu yang menjelma karan...

Pementasan

Pementasan Sehabis penonton berdiri dan bertepuk tangan kuyakin kita akan lupa barusan telah bercinta dan merekakan masa depan (sebuah rumah sederhana, seekor kucing yang manja dan anak-anak yang akan kita lahirkan) yang ternyata hanya sepanjang tali layang-layang "Apakah tadi menarik kak?" Bisikmu, lalu kita menundukan kepala tirai pangung pun jatuh menutup segalanya suara tepuk tangan semakin menderas sementara sunyi berjalan perlahan mendekat February 12 at 8:13pm 

Sebuah apel untuk ibu guru.

Seekor ular masuk menaruh sebuah apel di mejamu subuh tadi. Setelah itu ia bergegas pergi sebelum matahari terbit dan para ibu pergi berdebat harga lewat angka, aksara, dan retorika untuk mendapatkan bahan sarapan keluarga. Ia sangat tahu nanti kau tidak pernah mengusut tuntas dari mana apel ini ada di mejamu, hanya tersenyum manis sembali memandang para murid dan menebak siapa dari mereka yang menaruhnya rapih di dekat penghapus papan tulis sambil mengucapkan selamat pagi, juga menerka-nerka bagaimana aroma surga dahulu kala. Ular pun juga begitu, ia tidak pernah mengusut kenapa si kakek tua penjaga sekolah menjadi sebodoh itu mengawasi, padahal katanya ia tidak pernah tidur. Mei 2013

Sirkus

Kau berkata, kitalah kembang api, menari di atas lidi-lidi cahaya setipis jerami dan lilin-lilin yang telah padam sedari tadi Seekor jerapah ikut berdansa di angkasa menaiki seutas benang baja bersama istrinya sedangkan seekor beruang mengendarai sepeda dengan motor ditemani seekor kukang jantan Gajah-gajah mulai terbang di udara ditemani kawanan kuda bersayap juga seekor jebra yang meluncur cepat dan sepasang kucing berlompatan pada temali besi Kita adalah kembang api sayang, berkembang di atas saat malam tiba dan Kakek tua itu sedang asik terlentang menikmati pertunjukan dan kopi semesta

Mendadak

Mendadak kamu bertanya tentang jumlah sajak yang selalu aku kirim padanya lewat udara di setiap malam semenjak hari itu tiba semenjak seekor jalak yang dulu kita pelihara lepas dari sangkarnya juga anak-anak tetangga yang kini sudah tampak dewasa dan siap mencari pasangan hidup keluarga seperti kita. Kemudian kamu pergi ke dapur, mengambil makanan roti tawar yang diolesi selai dengan berbagai rasa sebagai pilihannya. aku menebak jika kamu akan mengoles selai nanas seperti kesukaanmu sejak dulu "Aku sedang tidak ingin nanas, kamu tahu?" Ucapmu dari dapur Kita biarkan jendela masih belum tertutup rapat, masih kita biarkan seekor kucing masuk ke dalam mencari-cari sisa makanan di dekat tempat sampah lalu tertidur pulas di depan perapian. Perkara kita belum selesai juga setelah kamu racik sepotong roti tawar dengan cokelat lalu menawarkan sebagiannya padaku. "Jadi berapa banyak?" Tanyamu kembali. Aku hanya mengeleng kepala, ...

Sebuah Foto

Tengah malam ini seorang pria mabuk sambil bernyanyi di depan bingkai foto mantan kekasihnya "Duhai adinda, kau adalah segalanya" setelah itu keheningan masuk tanpa salam menciptakan tiada, bahkan sepasang cicak mendadak diam, begitupun jam tua yang tenteng jamnya memekakkan telinga Sebuah foto yang didekap olehnya diam-diam ikut menjauh, tidak kuat menahan bau surga dari seorang pemabuk gila 25 Februari

Dalam Pesan

Dalam pesan, kau meminta maaf karena lupa diselipkan juga aroma pohon jati, angin senja beserta bunyi kepak burung gereja, sengama rumput dan daun angsana tawa anak-anak kecil bermain bola March 3