Skip to main content

Perlahan


I
Perlahan, sampai juga genggaman ini mencapai jemarimu
Sepasang lilin dan keremangan menjadi bisu sesaat
Padahal sejak tadi dia berisik,
Mengoda mata kita yang tidak sempat bertemu pandang

Gesekan biola beralun tipis dari rekaman telepon genggamku
Karena itu beberapa pengamen lebih memilih  pergi, sebelum menyapa kita
Sebelum menganggu kita dengan nada suara dan petik gitar yang salah

II
Ada bintang jatuh, ucapku
Kau langsung mengarah pandangan pada angkasa malam
Mencari setiap jengkal di sana,
Seperi seekor serangga mencari lampu jalan

Ada bintang jatuh, memang
Pada sepasang mata yang kau punya
Terjebak, terbentur-bentur pada benda yang seperti kaca

III
Aku memandangmu dalam, sesekali kikuk saat kau tahu
Kenapa kak?
Aku mengeleng kepala, lalu menegur waktu
Yang sejak tadi terhenti di sebelah kita menyaksikan

Perlahan, kita rangkai sunyi ini sendiri
Di antara cahaya bintang, lampu jalan, dan bisik kendaraan
Setelah kita habiskan es krim cokelat dan makan malam

Perlahan, sebuah pertanyaan aku bisikkan,
Mau bersamaku untuk selamanya?

Comments

Popular posts from this blog

percakapan deny dan watip part 2

dialog saat malam Watip: den, akhirnya saya menemukan cara untuk ke jepang, lalu bertemu dengan yoshioka kiyoe. Deny: bagaimana tip Watip: naik pesawat   Dialog malam hari Deny : Tip, kenapa lw punya banyak tokoh favorit? Watip : Biar bisa minta tandatangannya   dialog pagi:  deny: kalo lw ketemu singa apa yang lu lakukan?  watip: berdoa semoga singa itu sudah kenyang     Obrolan tengah malam Watip : den, kalo mau begadang ada satu syarat penting Deny : apa Tip Watip : Jangan tidur   dialog jam 8 malam: deny: kalo lw nyasar di tempat yang nga ada airnya trus lw haus, cara buat lw dapat air gimana? Watip: ambil di ransel   dialog jam 8 malam: deny: kalo lw nyasar di tempat yang nga ada airnya trus lw haus, cara buat lw dapat air gimana? Watip: ambil di ransel     dialog malam: deny: gw bayarin makanan lw 10 ribu Watip: seribu, ambil atau tidak.  

Pada suatu Saat Nanti

 untuk: devi rosdiani Januari tiba juga. Bulan yang selalu dijadikann tumbal dalam perayaan kembang api.  Langit malam pertama benar-benar terang, penuh bunga yang selalu  saja bercahaya dan meledak tanpa sedikit pun menoleh ke arah kita.                 Aku sendiri di antara ribuan pasangan manusia. Menunggumu, dalam perjanjian bertemu di tempat yang tidak jauh dari bianglala ini, sepertinya nanti senyummu akan tersamar oleh keremangan malam. Bintang bertaburan.                 Arloji selalu ku sapa setia menit, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Kembang api sudah mulai dinyalakan, tapi hanya sebagian kecil saja. Bianglala ini semakin menawarkan ilusi akan hadirnya kehidupan malam.              ...

Sirkus

Kau berkata, kitalah kembang api, menari di atas lidi-lidi cahaya setipis jerami dan lilin-lilin yang telah padam sedari tadi Seekor jerapah ikut berdansa di angkasa menaiki seutas benang baja bersama istrinya sedangkan seekor beruang mengendarai sepeda dengan motor ditemani seekor kukang jantan Gajah-gajah mulai terbang di udara ditemani kawanan kuda bersayap juga seekor jebra yang meluncur cepat dan sepasang kucing berlompatan pada temali besi Kita adalah kembang api sayang, berkembang di atas saat malam tiba dan Kakek tua itu sedang asik terlentang menikmati pertunjukan dan kopi semesta