Skip to main content

Seandainya saya menikah dengan yoshioka kiyoe nanti #6


by Watip Ihcijo on Saturday, 12 February 2011 at 16:20
                Bulan purnama, sementara beberapa jangkrik lebih asik bermain bunyi. Cahaya jatuh berceceran sepanjang halaman luar rumah kita. Kita masih di kamar, berdua saja, akan memulai sebuah ritual cinta yang memang selalu kita tunggu terjadinya.
                Kita berdua akan bersembunyi di balik kesunyian. Menyembunyikan diri dari lampu kamar yang masih saja gigih untuk menyala. Lilin di atas meja makan dari tadi sudah padam. Pakaian kita sudah sama-sama terpisah dari tubuh kita. Ya, tidak ada rahasia lagi yang menutupi kedua diri kita.
                Maukah kau memberikan semua rahasiamu?
                Aku sudah tahu pasti kau tak mengerti bahasaku. Ya, bahasa kita memang berbeda. Aku tersenyum, dan sepertinya kau mengerti apa yang aku maksud. Kedua mata kita hanya berjarak beberapa centi saja. Di dinding kamar, terdengar jelas tik-tok jam yang menusuk.
                Tanganmu hangat, aku mengengamnya. Lalu ku sembunyikan dari dunia, bahkan dari kegelapan, ataupun cahaya itu sendiri. Daun berguguran sesuai musim, perlahan dan akhirnya menyentuh tanah.
                Kau tahu, kita berdua kini sudah menjelma tokoh dalam kisah adam. Kita sudah merasa dunia ini milik kita, dan menganggap jika dunia ini adalah surga. Tapi aku peringatkan padamu, jika jangan sekali-sekali kau tergoda dengan binatang ular, aku takut kau melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan oleh hawa.
                Ku sentuh pipi kirimu dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku masih mengengam erat tangan kananmu. Pernah kah kau berpikir jika hidung kita berdua selalu menghalangi bibir kita untuk bertemu. Tanganku mengelus rambutmu.
                Kita masih ada di dalam selimut. Kita masih ada dalam ritual percintaan ini. Kita masih terbebas dari rahasia-rahasia yang selalu menganggu kita untuk bersikap jujur, pada siapapun. Di sini benar-benar gelap. Adegan cinta pun akan kita mulai.
                Di luar dingin, masih ada sisa salju di ranting
                Masih ada boneka salju yang belum mencair

                Tidak ada yang menjadi saksi percintaan pertama kita, bahkan celengan berbentuk babimu, ataupun sebuah radio kecil, ataupun jam dinding yang tergantung di kamar ini. Ingat kita bersembunyi dari siapapun dan juga apapun.
                Kau mengatakan sesuatu, aku menganguk. Setelah itu kau bernyanyi, walau aku tidak mengerti tentang apa yang kau nyanyikan. Biasanya aku mendengar kau bernyanyi dari lagu yang ku download, dari video yang tidak pernah luput untuk aku saksikan, dan kau tahu kini aku mendengarnya langsung tanpa adanya jarak yang menganggu. Aku memejamkan mata. Aku masih memenggang tangan hangatmu.
                Kau terus bernyanyi tanpa henti, memang cukup pelan, agar kesan lembut dalam lirik yang ada di dalamnya tersampaikan. Tidak ada yang mendengar suaramu selain aku. Di balik selimut ini seolah kita memiliki dunia sendiri. Hanya ada aku dan kau yang hidup di dalamnya. Dunia yang penuh cinta, lantas apakah kita akan abadi di dalamnya? Memainkan cinta di dalam detiknya? Mengalami semua hal bersama dalam gengaman yang tidak pernah terlepas.
                Aku membiarkanmu bernyanyi sepuasnya sampai suaramu habis juga, aku menikmati segala hal yang kau sampaikan. Memang aku tidak memaknai tentang apa yang kau katakan. Aku membaca matamu, matamu seolah menyampaikan banyak perasaan yang terpendam. Ya, benar kata banyak orang, jika mata bisa bicara, dan mata tidak pernah berbohong. Matamu tampak sangat jujur rupanya.
                Matamu berwarna coklat, agak kecil, dan akan terbenam dalam kelopak jika kau tertawa. Aku sangat menyukai saat mata itu seperti halnya matahari yang akan terbenam. Sunguh lepas, dan sangat indah jika aku memandang kedua bola mata itu. Kau masih bernyanyi, cukup perlahan. Kita seolah lupa akan dunia di luar selimut ini.
                Malam dengan purnama ini, adakah bintang yang bertaburan diantaranya? Ah, pertanyaan yang mengalihkan percintaan kita ini. Setelah kau bernyanyi aku membacakan sebuah puisi yang sederhana. Puisi yang menceritakan tentang seberapa besar keinginanku untuk memilikimu, dan tentang sebuah janji kecil untuk menemanimu selamanya.
                Ya, aku seorang penulis puisi, kau tahu dari beberapa puisiku dulu, walau belum diterjemahkan ke dalam bahasamu. Entah, apakah kau mengerti atau tidak, apakah kau mendapatkan hal yang tersimpan atau tidak, aku tidak akan pernah mengusut tentang hal itu.
                Kita masih menikmati nuansa di dalam selimut. Kulit putihmu masih saja tampak dalam selimut yang melarang cahaya untuk masuk. Kau tahu, aku selalu saja mengangapkulitmu itu sebening salju, bahkan aku ingin sekali mengangapmu sebagai putri salju. Lalu aku akan berpura-pura menjadi seorang pangeran, padahal aku bukan pangeran. Hanya seorang kelana yang kebetulan lewat, dan memiliki seekor kuda putih yang selalu saja setia untuk menemaniku melalui tempat-tempat baru.
                Ku kecup keningmu sehabis puisi selesai. Lalu kusap kening dan juga rambut bagian depanmu. Kau terlihat seperti seekor kucing. Kau tampak nyaman sangat nyaman. Kau mengatakan hal yang sederhana, mungkin kau ingin menanyakan apakah aku mencintaimu, atau meminta aku untuk menjaga ragamu rohmu menikmati mimpi. Ya ritual yang akan kita lakukan akan begitu melelahkan. Setelah itu aku yakin kau akan tertidur pulas, lalu akan terlambat untuk terbangun.
Sunyi tercipta, diiringi berbagai hening cahaya bulan
Salju masih tersisa di pagar rumah kita
Lantas apakah suasana itu akan mengalahkan
Segala ritual yang sedang kita lakukan
Di balik selimut, di dalam kegelapan?

                Ritual cinta kita dimulai. Kamar sudah terkunci.
                                                                                                                Pejuang, 11 februari 2011

Comments

Popular posts from this blog

percakapan deny dan watip part 2

dialog saat malam Watip: den, akhirnya saya menemukan cara untuk ke jepang, lalu bertemu dengan yoshioka kiyoe. Deny: bagaimana tip Watip: naik pesawat   Dialog malam hari Deny : Tip, kenapa lw punya banyak tokoh favorit? Watip : Biar bisa minta tandatangannya   dialog pagi:  deny: kalo lw ketemu singa apa yang lu lakukan?  watip: berdoa semoga singa itu sudah kenyang     Obrolan tengah malam Watip : den, kalo mau begadang ada satu syarat penting Deny : apa Tip Watip : Jangan tidur   dialog jam 8 malam: deny: kalo lw nyasar di tempat yang nga ada airnya trus lw haus, cara buat lw dapat air gimana? Watip: ambil di ransel   dialog jam 8 malam: deny: kalo lw nyasar di tempat yang nga ada airnya trus lw haus, cara buat lw dapat air gimana? Watip: ambil di ransel     dialog malam: deny: gw bayarin makanan lw 10 ribu Watip: seribu, ambil atau tidak.  

Komentar Ahmad Ibo untuk Museum Hujan

Malam musim hujan di bulan Desember, Watip meminta saya ke kontrakan, dia ingin memberikan kepada saya Museum Hujan, buku kumpulan puisinya yang baru lahir. Suatu kehormatan buat saya karena menjadi salah satu dari sedikit orang yang menerima buku puisi tersebut langsung dari penulisnya. Sekaligus suatu kegembiraan karena mungkin telah lahir generasi kedua penyair Bengkel Sastra UNJ pasca Ferdi Firdaus. Anjaaaass. Sepintas membayangkan Museum Hujan, terbesit dalam kepala saya tentang bangunan tua, meski begitu senyap, di dalamnya penuh dengan hiruk pikuk kejayaan masa lalu. Watip menuliskan lalu menyajikannya pada diorama-diorama , tentang hujan dan kenangan yang telah purba. Dilihat orang, diraba, dinikmati, membosankan, lalu ditinggalkan dan dilupakan begitu saja. Meski demikian, di sana puisinya tetap suci dan abadi sebagai artefak yang menyimpan segala kenangan. Menerima buku puisi buat saya seperti menerima kitab suci, hanya saja Watip di luar 25 nabi yang waj...

Sirkus

Kau berkata, kitalah kembang api, menari di atas lidi-lidi cahaya setipis jerami dan lilin-lilin yang telah padam sedari tadi Seekor jerapah ikut berdansa di angkasa menaiki seutas benang baja bersama istrinya sedangkan seekor beruang mengendarai sepeda dengan motor ditemani seekor kukang jantan Gajah-gajah mulai terbang di udara ditemani kawanan kuda bersayap juga seekor jebra yang meluncur cepat dan sepasang kucing berlompatan pada temali besi Kita adalah kembang api sayang, berkembang di atas saat malam tiba dan Kakek tua itu sedang asik terlentang menikmati pertunjukan dan kopi semesta