Sebagian
besar puisi Museum Hujan merefleksikan perasaan tabah seorang pecinta
yang berhati lembut. Ialah sosok berprasangka positif –merenungi masa
lalu tak sebatas penyesalan. Kadang terdapat kesedihan yang sungguh
ngilu, tetapi dialihkan langsung kepada harapan yang belum pasti
perwujudannya. Dengan apa? Penyair membantahnya dengan pertanyaan
–semacam sanggahan mungkin. Melalui puisi “Kenangan”, penyair ingin
berlurus-pikir atas ingatan, atau dalam puisi “Mendadak”, yang coba
menghibur: karena ada perasaan yang mesti terjaga karena ada hati yang
tak boleh retak. Namun, ketika puisi seolah tak menjawab apa-apa,
penyair memilih diam. Sebab, diam yang demikian itu juga berarti
membiarkan khayalan terasa benar-benar ada, dan terus berkembang.
Lantas, tak heran apabila puisi “Pada Bait Ketiga” ia pun gundah karena
usahanya menggapai cintanya begitu sia-sia belaka. Di sinilah letak
kesimpang-siuaran, penyair tidak bisa menghentikan imajinasi, tatkala
kenyataan tidak berpihak kepadanya. Itulah mengapa puisi “Sirkus”,
“Menjaring Tuhan”, dan “Kura-Kura” menjadi beberapa contoh atas dunia
permainan (kata-kata) di mana penyair tidak hilang akal selagi kesepian.
Sisanya, ada puisi-puisi yang dialamatkan untuk orang-orang terdekat.
Yang penting dicatat: sang penulis Museum Hujan menggarisbawahi bahwa
dalam urusan cinta jangan pernah takut kecewa, pasalnya hal itu
merupakan keniscayaan, asalkan tidak sampai trauma. Karena trauma
membuat kita tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan menulis puisi
sekalipun.
untuk: devi rosdiani Januari tiba juga. Bulan yang selalu dijadikann tumbal dalam perayaan kembang api. Langit malam pertama benar-benar terang, penuh bunga yang selalu saja bercahaya dan meledak tanpa sedikit pun menoleh ke arah kita. Aku sendiri di antara ribuan pasangan manusia. Menunggumu, dalam perjanjian bertemu di tempat yang tidak jauh dari bianglala ini, sepertinya nanti senyummu akan tersamar oleh keremangan malam. Bintang bertaburan. Arloji selalu ku sapa setia menit, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Kembang api sudah mulai dinyalakan, tapi hanya sebagian kecil saja. Bianglala ini semakin menawarkan ilusi akan hadirnya kehidupan malam. ...
Comments
Post a Comment