Skip to main content

Komentar Hamzah Gozi

Sebagian besar puisi Museum Hujan merefleksikan perasaan tabah seorang pecinta yang berhati lembut. Ialah sosok berprasangka positif –merenungi masa lalu tak sebatas penyesalan. Kadang terdapat kesedihan yang sungguh ngilu, tetapi dialihkan langsung kepada harapan yang belum pasti perwujudannya. Dengan apa? Penyair membantahnya dengan pertanyaan –semacam sanggahan mungkin. Melalui puisi “Kenangan”, penyair ingin berlurus-pikir atas ingatan, atau dalam puisi “Mendadak”, yang coba menghibur: karena ada perasaan yang mesti terjaga karena ada hati yang tak boleh retak. Namun, ketika puisi seolah tak menjawab apa-apa, penyair memilih diam. Sebab, diam yang demikian itu juga berarti membiarkan khayalan terasa benar-benar ada, dan terus berkembang. Lantas, tak heran apabila puisi “Pada Bait Ketiga” ia pun gundah karena usahanya menggapai cintanya begitu sia-sia belaka. Di sinilah letak kesimpang-siuaran, penyair tidak bisa menghentikan imajinasi, tatkala kenyataan tidak berpihak kepadanya. Itulah mengapa puisi “Sirkus”, “Menjaring Tuhan”, dan “Kura-Kura” menjadi beberapa contoh atas dunia permainan (kata-kata) di mana penyair tidak hilang akal selagi kesepian. Sisanya, ada puisi-puisi yang dialamatkan untuk orang-orang terdekat. Yang penting dicatat: sang penulis Museum Hujan menggarisbawahi bahwa dalam urusan cinta jangan pernah takut kecewa, pasalnya hal itu merupakan keniscayaan, asalkan tidak sampai trauma. Karena trauma membuat kita tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan menulis puisi sekalipun.

Comments

Popular posts from this blog

Pada suatu Saat Nanti

 untuk: devi rosdiani Januari tiba juga. Bulan yang selalu dijadikann tumbal dalam perayaan kembang api.  Langit malam pertama benar-benar terang, penuh bunga yang selalu  saja bercahaya dan meledak tanpa sedikit pun menoleh ke arah kita.                 Aku sendiri di antara ribuan pasangan manusia. Menunggumu, dalam perjanjian bertemu di tempat yang tidak jauh dari bianglala ini, sepertinya nanti senyummu akan tersamar oleh keremangan malam. Bintang bertaburan.                 Arloji selalu ku sapa setia menit, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Kembang api sudah mulai dinyalakan, tapi hanya sebagian kecil saja. Bianglala ini semakin menawarkan ilusi akan hadirnya kehidupan malam.              ...

Kumpulan Puisi: Ada senja saat itu, tentu saja kau juga ada

Ini kumpulan puisi saya yang ke-3. Kumpulan puisi yang saya buat dalam proses sekitar 3 bulan. Saat itu saya berpikir membuat kumpulan puisi ini merupakan syarat saya untuk keluar dari pekerjaan menjadi administrasi perusahaan di daerah cikarang. Apa yang menarik dari buku ini? Bagi saya kematangan dalam menempatan kata-kata yang bersifat klise. Selamat menikmati... http://www.mediafire.com/?6272qeh74x8haa5

peternakan anjing

nanti kita akan berternak anjing, dan rumah kita akan penuh suara gongongan dari anak-anak nya yang mengajak bermain bola kita akan mengajrkan mereka cinta yang sederhana dan juga kesetiaan yang luar biasa mungkin kita akan menangis, saat kita menjual cinta itu dan kita hanya bisa berdoa cinta kita akan menghasilkan cinta baru pada pembeli nya. mari kita membuatnya. membuat perternakan anjing dengan cinta 11 June 2011 at 10:48