Skip to main content

Posts

Putus,

;tidak lucu jika kau mati sekarang. Mengalirlah hujan yang menetas dari langit, senja hilang sudah. Bising kendaraan tertelan derasnya tetes air juga petir yang menyambar sejak tadi. Seorang anak kedinginan di luar sana, telat pulang dari mengamen di perempatan jalan pemuda. Ada yang terasa hilang dari sana, sepertinya separuh bayanganmu yang biasanya hadir sebagai wujud kerinduanku. Untuk apa hidup jika kau tidak ada? Ucapku. Rasa gigil semakin membuat ngilu saja. Aku jadi teringat saat dalam pelukmu dulu, begitu hangat. Seringkali aku benci menjadi seorang melankolis, harus memperbesarkan sebuah masalah rasa. Seperti ini, putus hubungan percintaan dengan kamu. Sebenarnya hanya sepele saja, tidak ada gengaman seperti dulu lagi, tidak ada tatapan dalam yang sudah menjadi kebiasaan kita, juga pesan-pesan pendek yang kita tukar sesaat malam menghilang, dan pagi menjelang. Tapi tidak seperti ini juga. Kamu membuat aku khawatir. Bukannya ini karena kau, dan kini kau kawatir. ...

Kata, Januari, Kita

Kembali aku kenalkan kau pada mereka yang menderet setia dalam jenuh yang berkepanjangan, juga matahari yang diam-diam menjelma. Inilah Kata, yang kau kenal sejak lahir, sejak kau belum bisa menafsir aksara dan sibuk untuk mengusut beberapa tanda Kota kembali terlihat mabuk untuk menelan remang cahaya juga angka-angka, Sedangkan Januari, masih lama akan tiba masih harus ditunda beberapa purnama jadi, kenalkan ini adalah Kata dan disebelahnya Luka.

Genie

Kugosok dengan perlahan tempat di mana kau tinggal Kau menjelma kabut tipis seperti sisa rintik hujan semalam Juga beberapa percik cahaya kembang api "ada yang tuan inginkan saat ini?" ucapmu. Aku menceritakan jika aku jatuh cinta Pada gadis belia sejak lama kukenal Pada sepasang mata yang memiliki tatapan dalam Juga aroma melati saat dia ada di hadapan "Siapa wanita itu tuan?" Ucapmu ;Kamu

Hujan Dan Kenangan

Hujan Ka, lihat ada hujan lagi. Ayo kita mengurungnya dalam kenangan.                 Setelah itu kau menarik lenganku dari dalam rumah, tanpa membawa payung ataupun jas hujan. Kau tidak pernah berpikir jika nanti malam kita akan menahan gigil panjang di depan perapian dengan selimut tebal. Dan esok kita akan terbaring lemas dengan demam yang tinggi. Tapi, itulah kau, orang yang selalu aku cintai dengan segala keunikannya.                 Hujan, kita selalu kurung mereka pada kenangan. Hujan mana yang tidak mau dikurung dalam kenangan, karena mereka akan kekal, karena mereka jatuh tidak sia-sia. Kadang mereka merasa sia-sia belaka seandainya jatuh tanpa ada yang satu pun mengingatnya, kecuali para ibu yang lupa mengangkat jemuran di teras rumah.               ...

Untuk Ranger Pink

adalah air mata yg bergegas menguap siang ini  pada tumpukan puing kenangan dan kata yang terjebak pada tenggorokan  tentang cinta tentang hal yg menghancurkan setiap baju besi yang dikenakan.  : ada yang diam diam mengenakan topengnya kembali  setelah itu pergi 26 agustus 20212

Jika Kau juga mencintaiku

Jika kau juga mencintaiku? Mungkin akan aku bawakan setiap cahaya bianglala yang menyala Ke dalam kamarmu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya Atau akan kubaringkan kau pada sebuah padang Lalu kuajak kau mengarungi setiap inci angkasa malam yang seperti matamu Atau mungkin akan kumainkan petik benang gerimis yang tipis Hingga kau tidak akan pernah menepis, tentang perasaanku padamu Jika kau juga mencintaiku, seperti aku? Tidak pernah kupikirkan tentang hal itu 24 April 2012

Desember pada September

I Lagi-lagi kau minta waktu ditiadakan Tetes air hujan yang tidak sempat menyentuh tanah Nanti tergantung seperti bintang mainan di kamar kita Suara telepon berbunyi keras Itu darinya? Sepertinya Musim semi yang kita nanti tidak akan datang Berlalu seperti almanak yang kau letakan di meja II Keluarlah Matahari masih hangat menyambutmu sayang III Desember pada September Sepertinya masih terdengar muskil Meminta waktu yang berhenti Dan kelak akan rapuh seperti jerami IV Musim apakah ini? Ingatkah musim semi yang kita nanti benar-benar tidak akan datang Berlalu lalu terlupakan seperti kemarin Air matamu tumpah pada semesta Sebelum angka dua belas itu akhirnya tiba